Ramadhan dan Al Fatihah, Memperbarui Komitmen Ketaatan

Posted on

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Yang menguasai hari pembalasan.

Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.

Tunjukilah kami jalan yang lurus.

Yaitu, jalan orang-orang yang telah Engkau anugrahkan nikmat kepada mereka; bukan, jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.” (Al-Fatihah :1-7)

Surat Al-Fatihah “Pembukaan” adalah surat pertama dalam kitab suci Al-Qur’an. Itulah mengapa ia dinamakan pembuka. Ketujuh ayat yang terdapat dalam surat Al-Fatihah tersebut diturunkan secara bersamaan di saat Nabi Muhammad Saw masih bermukim di Makkah.

Surat Al-Fatihah diucapkan berulang-ulang oleh kaum muslimin dalam sehari semalam minimal sebanyak 17 kali bacaan sesuai dengan jumlah rakaat shalat fardlu. Dalam setiap shalat yang dilakukan, terdapat banyak sekali permohonan ditujukan untuk meminta ampunan dan pertolongan Allah. Al-Fatihah sebagai bacaan wajib menjamin bahwa semua pernyataan di dalamnya merupakan dzikir dan doa yang menembuskan sekian harap kita kepada Allah.

Komitmen yang dibangun adalah “Iyyaka na’budu wa iyyakanasta’in yang berarti hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. Komitmen pengabdian dalam penghambaan kepada Allah terdapat di depan kata pertolongan. Inilah pesannya, bahwa pertolongan itu akan hadir saat kita memiliki kesanggupan untuk menjalankan fungsi penghambaan kepada Allah Swt. Menjadi hamba adalah tebusan kelayakan diri kita untuk mendapat pertolongan Allah. Sebuah pernyataan yang adil, karena menyadarkan bahwa penghambaan yang dilakukan oleh setiap diri hakikatnya adalah untuk keselamatan kita pribadi.

Pembinaan Ramadhan akan membuat kita semakin yakin bahwa kita sangat memerlukan pertolongan Allah. Kelemahan manusia nyata terlihat pada saat menjalankan ibadah shaum. Dengan lapar dan dahaga saja kita bisa begitu lelah dan kepayahan. Jika bukan karena pertolongan Allah dengan ditanamkannya iman di hati kita, mungkin kita akan menjadi lemah dan menyerah pada kondisi lapar dan haus yang menerpa. Mengingat Ramadhan adalah bulan qabulnya doa maka kebutuhan akan pentingnya pertolongan Allah pun tergambar nyata saat di setiap malam ramadhan semua doa berisikan begitu banyak permintaan.

Maka saat pertolonganNya begitu sangat diperlukan, komitmen untuk beribadah dengan ketundukan kepadaNya pun harus lebih dimaksimalkan. Bukan malah sebaliknya, banyak permintaan kepada Allah tapi malas dalam menghamba kepadaNya.

Pada ayat selanjutnya, komitmen pengabdian dilanjutkan dengan permohonan untuk ditunjukkan jalan yang lurus (shirothol mustaqim). Sebuah jalan hidup yang dimiliki hamba-hamba Allah yang taat bukan jalan hidup para penentang Allah dan RasulNya. Inilah jalan dengan pedoman yang benar. Jalan ini adalah jalan dengan kebenaran mutlak yang tidak ada keraguan didalamnya. Allah Swt berfirman :

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (Al-Baqarah: 147)

Demikianlah jalan lurus yang Allah tegaskan. Jalan orang-orang yang menapaki Al-Qur’an yang diturunkan pada bulan mulia Ramadhan sebagai petunjuk dariNya dengan kebenaran yang mutlak lagi tak terbantahkan. Maka sudah seyogyanya dalam menghamba dan beramal shalih haruslah sesuai dengan ketentuan Al-Qur’an.

Amaliah Ramadhan adalah amal yang memiliki maksud dan tujuan. Bukan hanya sekadar ikut-ikutan atau sebatas kebiasaan yang dilakukan setiap tahunnya. Kehadirannya membuka rahasia keselamatan serta mendekatkan diri pada pertolonganNya. Shaum dan shalat yang dilakukan di dalamnya memiliki rangkaian prosesi ubudiyah yang insyaallah mampu menembuskan doa dan harapan demi lahirnya pertolonganNya untuk keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Wallahua’lam bish shawab. (voa-islam.com)

Oleh : Widya Fauzi (Penulis adalah Pengajar, Founder Komunitas Muslimah Menjahit dan Bandung Storytelling Club)